Adab-adab Seputar Berbuka Puasa

Aug 11

Adab-adab Seputar Berbuka Puasa

Memahami dan Mengamalkan adab-adab puasa sangat penting, karena hal itu merupakan ibadah. Masih banyak orang yang  tidak memahami tuntunan Islam tentang berbuka puasa, maka tulisan ini semoga menambah penjelasan dan keterangan kepada kita seputar adab-adab berbuka puasa. Silahkan menyimak.


1. Kapan Orang Yang Puasa Berbuka ?

Tidak ada perbedaan di antara ulama bahwa waktu puasa adalah semenjak terbit fajar shodiq sampai matahari terbenam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ

Makanlah dan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam. (QS. Al-Baqarah/2: 187)

Kedatangan malam di dalam ayat ini telah dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan datangnya malam dan perginya siang serta tenggelamnya bundaran matahari. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

« إِذَا أَقْبَلَ اللَّيْلُ مِنْ هَا هُنَا ، وَأَدْبَرَ النَّهَارُ مِنْ هَا هُنَا ، وَغَرَبَتِ الشَّمْسُ ، فَقَدْ أَفْطَرَ الصَّائِمُ »

Dari ‘Umar bin Al Khaththob, dia berkata; “Jika malam telah datang dari sana dan siang telah berlalu dari sana serta matahari telah tenggelam, maka orang yang berpuasa sudah boleh berbuka “. [HR. Bukhari, no. 1954]

Oleh karena itu jika kita telah melihat bundaran matahari sudah tenggelam di ufuq barat, maka waktu berbuka sudah tiba, walaupun kita belum mendengar adzan maghrib dan walaupun jadwal sholat maghrib belum masuk. Karena sesungguhnya jadwal sholat maghrib dan adzannya itu ditandai dengan tenggelamnya matahari. Namun banyak orang sekarang yang  tidak memahami. Wallahul Musta’an.


2. Menyegerakan Berbuka Sebab Meraih Kebaikan.

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ »

Dari Sahl bin Sa’ad Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Senantiasa manusia di dalam kebaikan selama menyegerakan bebuka” [HR. Bukhari, no. 1957 dan Muslim, no. 1093]


3. Nabi n Segera Berbuka Jika Matahari Telah Tenggelam

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِى أَوْفَى – رضى الله عنه – قَالَ كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فِى سَفَرٍ ، وَهُوَ صَائِمٌ ، فَلَمَّا غَرَبَتِ الشَّمْسُ قَالَ لِبَعْضِ الْقَوْمِ

  • « يَا فُلاَنُ قُمْ ، فَاجْدَحْ لَنَا » . فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ، لَوْ أَمْسَيْتَ .
  • قَالَ « انْزِلْ ، فَاجْدَحْ لَنَا » . قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَلَوْ أَمْسَيْتَ .
  • قَالَ « انْزِلْ ، فَاجْدَحْ لَنَا » . قَالَ إِنَّ عَلَيْكَ نَهَارًا .
  • قَالَ « انْزِلْ ، فَاجْدَحْ لَنَا » . فَنَزَلَ فَجَدَحَ لَهُمْ ، فَشَرِبَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – ثُمَّ قَالَ « إِذَا رَأَيْتُمُ اللَّيْلَ قَدْ أَقْبَلَ مِنْ هَا هُنَا ، فَقَدْ أَفْطَرَ الصَّائِمُ »

Dari ‘Abdullah bin Abu Aufa radliallahu ‘anhu, dia berkata; Kami pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam suatu perjalanan dan beliau berpuasa. Ketika matahari terbenam, Beliau berkata (kepada sebagian rombongan; “Wahai fulan, bangun dan siapkanlah minuman buat kami”. Orang yang disuruh itu berkata: “Wahai Rasulullah, bagaimana jika anda menunggu hingga sore”. Beliau berkata: “Turunlah dan siapkan minuman buat kami”. Orang itu berkata, lagi: “Wahai Rasulullah, bagaimana jika anda  menunggu hingga sore”. Beliau berkata, lagi: “Turunlah dan siapkan minuman buat kami”. Orang itu berkata, lagi: “Sekarang masih siang”. Beliau kembali berkata: “Turunlah dan siapkan minuman buat kami”. Maka orang itu turun lalu menyiapkan minuman buat mereka. Setelah minum lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Apabila kalian telah melihat malam sudah datang dari arah sana (timur-pen) maka orang yang puasa sudah boleh berbuka.” (HR. Bukhori, no. 1955)


4. Para Sahabat Menyegerakan Berbuka

‘Amr bin Maimun Al-Audi berkata:

كَانَ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ أَسْرَعَ النَّاسِ إِفْطَارًا وَأَبْطَأَهُمْ سَحُوْرًا

Dahulu para sahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang-orang yang paling segera berbuka dan paling lambat sahuur. (Riwayat Abdurrozaq di dalam Al-Mushonnaf 4/226, no. 7591; dishohihkan oleh Al-Hafizh di dalam Al-Fath dan Al-Haitsami di dalam Al-Majma’, hlm. 62)


5. Berbuka Sebelum Sholat Maghrib Dan Berbuka Dengan Kurma / Air

Dari Anas bin Malik berkata;

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّىَ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَعَلَى تَمَرَاتٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ

Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berbuka dengan beberapa ruthab (kurma yang belum masak) sebelum melakukan shalat, jika tidak ada ruthab maka dengan beberapa kurma masak, dan apabila tidak ada kurma masak maka beliau minum beberapa teguk air. (HR. Abu Dawud, Ahmad, Ibnu Khuzaimah, dan Tirmidzi)


6. Doa Orang Berbuka Mustajab

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ لِلصَّائِمِ عِنْدَ فِطْرِهِ لَدَعْوَةً مَا تُرَدُّ ».

Dari Abdullah bin Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya orang yang puasa ketika berbuka memiliki doa yang tidak akan ditolak” [Hadits Riwayat Ibnu Majah (1/557), Hakim (1/422), Ibnu Sunni (128), Thayalisi (299) dari dua jalan Al-Bushiri berkata : (2/81) ini sanad yang shahih, perawi-perawinya tsiqat.]


7. Di antara Doa Berbuka Puasa

Ada beberapa hadits yang meriwayatkan tuntunan doa berbuka puasa. Hadits ini dapat diamalkan:

عَنْ ابْنِ عُمَرَ َقَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا أَفْطَرَ قَالَ « ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

Dari Ibnu Umar, dia berkata; Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jika berbuka beliau berkata: “Telah hilang dahaga dan telah basah urat-urat, dan telah ditetapkan pahala Insya Allah” (HR. Abu Dawud, Al-Baihaqi, dan Al-Hakim. Hadits ini berderajat hasan)

Ada hadits lain yang terkenal, tetapi dho’if, sehingga tidak boleh diamalkan.

Seperti hadits yang artinya : Dari Anas, ia berkata : Adalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila berbuka beliau mengucapkan : Bismillahi, Allahumma Laka Shumtu Wa Alla Rizqika Aftartu (artinya : Dengan nama Allah, Ya Allah karena-Mu aku berbuka puasa dan atas rizqi dari-Mu aku berbuka)”. [Riwayat : Thabrani di kitabnya Mu'jam Shagir hal 189 dan Mu'jam Awshath]

Sanad hadits ini Lemah/Dlo’if karena ada dua rawi yang lemah, yaitu Ismail bin Amr Al-Bajaly dan Dawud bin Az-Zibriqaan.

Juga hadits yang artinya: “Dari Muadz bin Zuhrah, bahwasanya telah sampai kepadanya, sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila berbuka (puasa) beliau mengucapkan : Allahumma Laka Sumtu …..” [Riwayat : Abu Dawud No. 2358, Baihaqi 4/239, Ibnu Abi Syaibah dan Ibnu Sunniy]


Dan sanad hadits ini mempunyai dua cacat:

Pertama : “Mursal (hadits Mursal adalah : seorang tabi’in meriwayatkan langsung dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tanpa perantara shahabat).

Kedua: ” Mu’adz bin Abi Zuhrah ini seorang rawi yang Majhul.


8. Pahala Memberi Buka Orang Puasa

Bersemangatlan wahai saudaraku untuk memberi makan orang yang puasa karena pahalanya besar dan kebaikannya banyak. Nabi n bersabda:

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِمْ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا

Barangsiapa memberi buka kepada orang yang berpuasa, dia mendapatkan semisal pahala mereka, tanpa mengurangi pahala-pahala mereka sedikitpun. (HR. Ahmad; Tirmidzi, Ibnu Majah; dan Ibnu Hibban; Lihat: Sifat Shoum Nabi, hal: 68)

Inilah beberapa penjelasan seputar berbuka puasa semoga bermanfaat.

Disusun oleh Muslim Atsari
Artikel www.ustadzmuslim.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>